Selasa, 28 Januari 2014

Baca Buku Ubah Kemampuan Otak

Baca Buku Ubah Kemampuan Otak?




KOMPAS.com - Sebuah ungkapan lama mengatakan, buku yang baik, khususnya cerita fiksi, dapat membuat pembacanya melebur ke dalam kisah di dalamnya. Sebuah studi baru dari Emory University kini mengonfirmasi kebenaran ungkapan tersebut. Menurut studi itu, aktivitas otak seseorang berubah ketika tengah terbenam dalam buku.
Ketua studi dan direktur Emory University's Center for Neuropolicy, Profesor Gregory Berns mengatakan, temuan ini dapat membantu ilmuwan untuk memperdalam pengetahuan tentang perilaku otak. Studi tersebut juga menemukan, orang yang membaca buku memiliki kemampuan berbahaya yang lebih komprehensif dan rasa empati yang lebih kuat.
"Cerita dalam buku membantu membentuk kehidupan dan dalam beberapa kasus membantu mendefinisikan seseorang. Kami ingin tahu bagaimana cerita masuk ke dalam otak dan proses di balik itu," ujar Berns.
Dalam studi yang dipublikasi dalam jurnal Brain Connectivity ini, tim peneliti melibatkan 21 orang untuk membaca buku yang sama, Pompeii, karya Robert Harris selama 19 hari. Buku tersebut menceritakan seorang protagonis yang hidup di luar kota Pompeii dan menyadari keanehan yang terjadi di sekitar gunung berapi.
"Buku juga memiliki narasi yang kuat, menggambarkan seorang pria ingin menyelamatkan wanita yang dia dicintai. Sementara gunung berapi terus bergejolak namun tidak ada warga kota yang menyadarinya," jelas Berns.
Peneliti melakukan pemindaian otak dengan alat fMRI (functional magnetic resonance imaging) untuk mengamati aktivitas otak peserta sebelum, saat, dan setelah membaca buku. Mereka memberikan jeda sekitar lima hari setelah tes membaca untuk melihat periode waktu berlangsungnya efek.
Hasilnya, saat dalam hari-hari membaca buku, peserta memiliki aktivitas otak yang berbeda dengan saat tidak membaca buku, khususnya pada bagian koteks somatosensorik dan sulci pusat yang bertanggung jawab dalam kemampuan visualisasi aksi tertentu tanpa harus melakukan aksi tersebut.
"Perubahan saraf yang kami temukan berhubungan dengan sensasi fisik yang membuat seakan-akan membuat pembaca menjadi si protagonis dalam cerita," jelas Berns.
Tahun lalu, tim psikolog menemukan, orang secara tidak sadar paling tidak dalam beberapa waktu pernah menjadi karakter fiksi favoritnya. Dengan begitu, seseorang sekaligus menjadi lebih memiliki empati.
Sumber :




by:   Harlina Naga Wijaya

Senin, 27 Januari 2014

Pasangan Hidup Bukan Jodoh Ideal?


Gambaran ideal kita tentang pasangan hidup sempurna, sangat berbeda dari pasangan hidup kita di kehidupan nyata, menurut penelitian baru. Penelitian tersebut menemukan bahwa teman hidup kita sesungguhnya memiliki indeks tinggi, berat dan tubuh yang berbeda dengan pilihan ideal kita.

Pasangan Hidup Bukan Jodoh Ideal?

Penelitian tersebut yang dipublikasikan pada tanggal 27 September 2010 di Jurnal PLoS ONE, menemukan bahwa kebanyakan pria dan wanita mengekspresikan preferensi jodoh yang berbeda untuk morfologi tubuh daripada morfologi sebenarnya dari masing-masing pasangan mereka dan ketidaksesuaian di antara jodoh yang sesungguhnya dan angan-angan, kerap lebih besar bagi wanita ketimbang pria.

Studi tersebut juga menemukan bawa kebanyakan pria menginginkan pasangan hidup wanita yang lebih langsing dari apa yang telah mereka miliki. Kebanyakan wanita merasa tidak puas juga, tapi lain dengan pria, beberapa wanita menginginkan jodoh yang lebih langsing, akan tetapi lainnya lebih memilih yang lebih besar.

Preferensi jodoh manusia giat-giatnya dipelajari untuk memahami apa yang membentuk tingkah laku reproduktif kita yang rumit. Beberapa studi sebelumnya secara terpisah menginvestigasi pilihan jodoh ideal dan pasangan yang sesungguhnya, tapi penelitian baru ini secara khusus dilaksanakan untuk membandingkan keduanya. Para peneliti mengumpulkan data dari seratus pasangan heteroseksual yang tinggal di Montpellier, selatan Perancis. Untuk mengukur preferensi morfologi tubuh, mereka menggunakan perangkat lunak yang memperkenankan para partisipan gampang memodifikasi bentuk tubuh siluet ideal mereka pada layar komputer. Para peneliti kemudian membandingkan siluet-siluet ideal yang ada dengan karakteristik sesungguhnya pasangan mereka.

Untuk tiga ciri morfologis yang dipelajari yaitu tinggi, berat dan massa tubuh, preferensi jodoh para pria sedikit berbeda dari pasangan sesungguhnya mereka daripada preferensi para wanita. Sebagaimana yang dikatakan oleh para peneliti, ketidakpuasan rendah yang diamati pada pria dalam studi ini bisa dibatasi ke beberapa ciri-ciri fisik, dan hasilnya bisa berbeda dari ciri-ciri yang lain seperti kepribadian, pandangan politik atau selera humor yang juga penting dalam pilihan pasangan.

DR. Alexandre Courtiol dari Universitas Sheffield yang menyelenggarakan penelitian tersebut bersama kolega-kolega dari Institut des Sciences de l'Evolution de Montpellier mengatakan: "Tak masalah apakah pria atau wanita memenangkan pertempuran pilihan jodoh, nampaknya untuk setiap ciri, apa yang kita pilih dan apa yang kita dapatkan cukup signifikan berbeda. Hal ini dikarenakan apa yang menjadi ideal kita biasanya jarang atau tak ada dan juga karena kedua jenis kelamin mengekspresikan preferensi tapi jumlah maksimum biologis bisa berbeda di antara mereka.

Diana Sopacua 

Jari Deteksi Kesalahan Mengetik



Eksperimen mengetik yang dilakukan oleh para ilmuwan menunjukkan bahwa otak setidaknya memiliki dua editor pengetikan.



Otak menggunakan dua pengecekan berbeda untuk menghindari kesalahan pengetikan, menurut penelitian baru.

Dengan menggunakan aplikasi pengolahan kata yang disertai program pendukung untuk mengecek kesalahan pengetikan kata serta diam-diam memperbaiki kesalahan sang pengetik, para peneliti menjabarkan berbagai cara orang-orang melihat kesalahan mereka. Studi tersebut yang dipublikasikan di Science pada tanggal 29 Oktober, menyoroti kompleksitas monitoring performa.

Psikolog Gordon Logan dan koleganya Matthew Crump dari Universitas Vanderbilt di Nashville merekrut para ahli mengetik yaitu orang-orang yang mengetik lebih dari 40 kata per menit menggunakan semua jari mereka. Subyek-subyek ini mampu mengetik sebuah paragraf tentang "the merits of border collies" dengan akurasi di atas 90 persen.

Setelah para pengetik selesai mengetik, para peneliti menampilkan kesalahan pengetikan umum sekitar 6 persen dari jumlah kata yang muncul pada layar (mis. mengubah sweatmenjadi swaet). Program/aplikasi tersebut juga mengkoreksi sekitar 45 persen kesalahan yang benar-benar dilakukan oleh para pengetik.

Pada survey setelah tes mengetik, para subyek pada dasarnya mengakui kesalahan pengetikan yang ditampilkan dan mengambil keuntungan dari koreksi para peneliti. Tak peduli apa yang benar-benar diketiknya, ketika sang pengetik melihat bahwa kata pada layar cocok dengan kata yang hendak diketiknya, dia menilai performanya akurat.

Akan tetapi kecepatan ketukan tombol mengungkapkan fakta yang lain. Setelah menekan tombol yang salah, jari-jari pengetik melambat untuk ketukan tombol berikutnya, walaupun para peneliti diam-diam memperbaiki kesalahan tersebut agar supaya tidak diperhatikan oleh sang pengetik. Dalam kasus ini, seorang pengetik tidak secara eksplisit sadar akan kesalahan tersebut, tapi meskipun demikian sinyal motorik otak berubah.

Logan mengatakan bahwa perubahan dalam pemilihan waktu atau timing ini merefleksikan sejenis penilaian performa otomatis. "Tubuh melakukan satu hal dan pikiran melakukan hal lainnya," katanya. "Apa yang kami temukan ialah bahwa jari-jari mengetahui hal yang sebenarnya." Demikian seperti yang dikutip dari ScienceNews, Kamis (28/10/10).

Banyak psikolog berpikir bahwa pikiran mampu mendeteksi kesalahan-kesalahan dalam berbagai cara, tapi "tak seorang pun yang menunjukkannya," kata Jonathan Cohen yang merupakan ilmuwan neurosains kognitif dari Universitas Princeton. "Di sini mereka mengembangkan suatu susunan eksperimen pintar untuk menjabarkan jenis-jenis sistem tersebut."

Hasilnya bisa mengungkapkan metode hirarki perbaikan kesalahan yaitu satu sistem "lebih rendah" melakukan kerja sebenarnya dan satu sistem "lebih tinggi" yang memberikan penghargaan dan kesalahan, kata Logan. Lapisan-lapisan kontrol ini bisa menjadi bukti dalam kegiatan-kegiatan seperti memainkan musik, berbicara dan berjalan ke suatu tujuan, kata Logan. Ketika seorang pria menuju ke sebuah restoran, otaknya memperhatikan tanda-tanda di jalan dan menjaganya tetap pada arah yang benar. Sementara itu kakinya terus berjalan mengarahkan jalan secara otomatis.

Belumlah jelas apakah dua jenis sistem pendeteksi kesalahan bekerja bersamaan atau bersikap tunduk terhadap sistem satunya, tutur Cohen. Sistem otomatis pada jari yang memenuhi seruan sistem yang lebih tinggi "merupakan permintaan yang bersifat intuitif," kata Cohen, "tapi apakah gagasan tersebut layak hingga kami memiliki gagasan lebih baik atau benar masih harus dilihat."

http://www.sciencemag.org/cgi/content/abstract/sci;330/6004/683

Diana Sopacua

Efek Radiasi HP Pada Tubuh


Seperti yang sudah kita ketahui, HandPhone merupakan kebutuhan yang tak dapat di pisahkan dalam kehidupan kita. Tapi, pernahkah kita memikirkan efek negatif HandPhone terhadap kesehatan kita? Kali ini saya akan membantu anda mengetahui apa saja efek negatif dari penggunaan HandPhone dalam kehidupan sehari-hari.
Karena pada HandPhone terdapat transmitter yang mengubah suara menjadi gelombang sinusoidal kontinu yang kemudian dipancarkan keluar melalui antena dan gelombang ini berfluktuasi melalui udara. Gelombang RF(radio frequency) inilah yang menimbulkan radiasi elektromagnetik. radiasi elektromagnetik terdiri dari gelombang elektrik dan energi magnetik dengan kecepatan cahaya. Semua energi elektromagnetik jatuh pada spectrum elektromagnetik, yang rangenya dari radiasi ELF(extremly low frequency) sampai sinar X dan sinar Gamma. 

Ketika orang menelpon, HandPhonenya diletakkan dekat kepala. Pada posisi ini, radiasi yang di serap oleh jaringan tubuh di sebaginan besarnya diserap.
Menurut beberapa penelitian, penggunaan HandPhone dalam jangka waktu singkat tidak akan menimbulkan efek samping yang berbahaya. Tapi, tidak menutup kemungkinan terjadi efek samping terhadap tubuh.
Bahkan ada penelitian yang menayatakan bahwa efek radiasi HandPhone bisa mematangkan sebutir telur seperti microwave. Coba bayangkan apa yang terjadi terhadap otak kita bila kita menggunakan HandPhone dalam jangka waktu yang sangat lama?
Berikut ini adalah beberapa penyakit yang di akibatkan dari radiasi HandPhone:
· Kanker Otak
· Tumor Otak
· Alzheimer
· Parkinson
· Fatique
· Sakit Kepala
Beriku ini adalah beberapa cara meminimalisir efek radiasi HandPhone:
· Jangan terlalu sering meletakkan HP dekat dengan ginjal , jantung, dan dikantung celana Anda karena ini bisa merusak ginjal, jantung, dan sistem reproduksi Anda
· Menggunakan headset
· Kurangi menelpon atau menggunakan HandPhone di ruang tertutup
· Hindari pemakaian pada anak kecil
· Penggunaan HandPhone dengan radiasi rendah

by: Harlina Naga Wijaya




Minggu, 26 Januari 2014

Seberapa Besar Cintamu Padaku? Sebuah Tes

Tes cinta yang dirancang oleh para ilmuwan yang secara akurat bisa memprediksi apakah suatu hubungan akan sukses.


Seberapa Besar Cintamu Padaku? Sebuah Tes

Para peneliti menggunakan tes tersebut untuk secara tepat memprediksi apakah lebih dari 50 pasangan akan bercerai dalam periode 12 bulan.

Tes tersebut memanfaatan sebuah teknik kata psikologis untuk menemukan apa yang benar-benar dipikirkan orang-orang tentang pasangan mereka dan seberapa gampang mereka mengasosiasikannya dengan kata-kata positif atau negatif, sebagaimana yang dilansir oleh Telegraph.

Jika seseorang lebih gampang secara otomatis mengasosiasikan kata-kata menyenangkan dengan pasangannya, para ilmuwan menemukan bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih kuat dan cenderung akan tetap bersama.

Namun "pembusukkan hubungan" bisa tetap berpengaruh dan meningkatkan potensi terpendam "resiko perceraian".

Dari 116 orang yang ikut berpartisipasi, 19 orang bercerai dari pasangan mereka yang setara dengan 16 persen, angka yang diprediksi oleh tim peneliti dari Universitas Rochester di Amerika.

Profesor Ronald Rogge yang memprakarsai studi tersebut mengatakan: "Apa yang benar-benar membuatku senang dengan hasil kami ialah bahwa pengukuran kami nampaknya lebih baik memprediksi hasil-hasilnya daripada apa yang orang-orang katakan kepada kami tentang hubungan mereka.

"Orang-orang yang memamerkan perasaan-perasaan negatif kepada pasangannya cenderung tujuh kali lipat akan bercerai pada tahun berikutnya."

Dalam tes ini, para relawan diminta untuk mengisi kuisioner tentang hubungan mereka serta menjalani tes asosiasi kata.

Studi sebelumnya tentang hubungan menemukan bahwa sulit untuk mencari tahu seberapa puaskah seseorang dalam hubungannya karena orang-orang akan mengatakan kepada para ilmuwan hal-hal berbeda dari apa yang mereka rasakan sebenarnya.

Prof. Rogge mengatakan: "Kesulitan mengenai hal itu ialah hal tersebut mengasumsikan bahwa mereka tahu seberapa bahagiannya mereka, dan hal itu bukan selamanya demikian.

"Yang lebih parah lagi, banyak orang tidak mau mengatakan kepada anda jika mereka mulai merasa kurang bahagia dalam hubungan mereka."

Namun, para ilmuwan meyakini tes baru mereka, dengan menggunakan asosiasi kata dan batasan waktu akan menginformasikan refleksi perasaan partisipan yang sebenarnya.

Prof. Rogge mengatakan: "Hal tersebut memberikan kita kilasan unik mengenai bagaimana perasaan orang-orang tentang pasangan mereka yang memberikan kita informasi yang tak dapat atau tak mau diberikan."

Tes tersebut didasarkan pada suatu teknik yang sering digunakan untuk menentukan rasisme atau bias yang merupakan perasaan-perasaan yang sulit diakui kepada diri mereka sendiri atau kepada para peneliti.

Para peneliti memberikan nama pasangannya dan melihat pada layar monitor ketika tiga jenis kata ditampilkan, kata-kata yang baik seperti "damai" atau "saling berbagi", kata-kata tidak baik seperti "kematian dan tragedi", atau nama pasangan mereka.

Para partisipan menjalani dua tes yaitu menekan tombol spasi ketika mereka melihat kata-kata yang baik atau kata-kata yang berkaitan dengan pasangan dan menekan tombol spasi ketika mereka melihat kata-kata yang tidak baik dan kata-kata yang berhubungan dengan pasangan.

Secara total ada 222 relawan yang berpartisipasi walaupun 116 relawan mengikuti survey lanjutan untuk mengetahui apakah mereka tetap bersama 12 bulan kemudian.

http://sainspop.blogspot.com/

Diana Sopacua

Mengatasi Kegelisahan Waktu Ujian

Para pelajar mencetak nilai lebih tinggi setelah menuliskan kecemasan mereka sebelum ujian.

Mengatasi Kegelisahan Waktu Ujian

Para pelajar sekolah menengah atas dan perguruan tinggi beranjak dari situasi menakutkan menuju kegemilangan dalam tes-tes besar dengan cara menuliskan ketakutan ujian sebelumnya, menurut penelitian baru.

Sebagaimana manuver Heimlich untuk mengatasi ketercekikan dalam tekanan, menulis kekhawatiran yang berhubungan dengan tes selama 10 menit sebelum mengikuti suatu ujian besar nampaknya mengeluarkan kekhawatiran itu dan membuka jalan untuk pencapaian yang lebih tinggi, ungkap psikolog Gerardo Ramirez dan Sian Beilock, dari Universitas Chicago, seperti yang dilansir ScienceNews (13/01/11).

Menuliskan ketakutan yang tak terucap mengenai kegagalan dan kegelisahan yang terkait memperkenankan para pelajar untuk mengevaluasi kembali kekhawatiran tersebut dan mengesampingkannya selama melakukan sebuah tes, Ramirez dan Beilock mengemukakan dalam edisi 14 Januari jurnal Science.

"Menulis tentang kegelisahan akan tes atau ujian secara substansial dapat meningkatkan nilai tes para pelajar dan mencegah ketercekikan yang menakutkan," tutur Beilock.

Ramirez dan Beilock menyediakan bukti pertama tentang orang-orang mendapatkan keuntungan instan dari penulisan eksperesif, kata psikolog James Pennebaker dari Universitas Texas di Austin. Penelitian dia sebelumnya menghubungkan menulis tentang konflik pribadi dan trauma selama beberapa hari pada awal semester perkuliahan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan nilai akhir semester.

Para peneliti juga menemukan bahwa orang-orang yang depresi yang menulis tentang pengalaman pribadi yang menekan selama beberapa bulan secara progresif lebih kurang merefleksikan tentang topik-topik melankoli.

Tidak jelas apakah para pelajar yang mengalami kegelisahan tes dapat secara berulang meningkatkan nilai ujian mereka melalui penulisan ekspresif, catat Beilock.

Pennebaker setuju. "Sebagaimana intervensi baru, ada sebuah kemungkinan kuat bahwa keefektifan dari latihan meulis berkurang seiring waktu," katanya.

Selama dua tahun ajaran berturut-turut di sekolah menengah atas Midwestern, Ramirez dan Beilock meminta para guru untuk secara acak menugaskan salah satu dari dua latihan menulis kepada pelajar yang totalnya berjumlah 106 orang untuk mengikuti ujian akhir biologi. Tiap pelajar meluangkan waktu 10 menit menuliskan pikiran dan perasaan tentang ujian yang akan datang atau sebuah deskripsi tentang topik biologi yang mereka duga tidak akan ada dalam ujian.

Dalam kuisioner yang diberikan enam minggu sebelum ujian akhir, 54 pelajar melaporkan kekhawatiran atau kecemasan konstan tentang mengikuti dan mungkin gagal dalam ujian.

Di antara para pelajar yang gelisah, mereka yang menulis tentang perasaan yang berhubungan dengan ujian mendapatkan nilai rata-rata 6 persen lebih tinggi pada tes akhir tersebut daripada mereka yang menulis tentang topik biologi. Para penulis ekspresif mendapatkan rata-rata B+ pada ujian akhir, sedangkan para penulis biologi mendapatkan B-.

Mereka yang khawatir yang menulis tentang perasaan mereka mendapatkan nilai akhir sama tingginya dengan para pelajar yang melaporkan sedikit atau tidak ada kecemasan sama sekali tentang ujian. Para siswa yang gelisah mendapatkan nilai sekitar 6 persen di bawah rekan-rekan mereka yang tidak khawatir dalam tiga ujian pertengahan hingga ujian akhir, sebuah penurunan yang disebabkan penulisan tentang kegelisahan tes.

Tak ada latihan menulis apapun yang menyebabkan para pelajar yang sedikit cemas tentang tes mendapatkan nilai yang lebih tinggi.

Dalam sebuah eksperimen lab terpisah, Ramirez dan Beilock awalnya memberikan tes matematika tekanan rendah dan kemudian tekanan tinggi kepada 47 mahasiswa dengan kemampuan matematika sebanding. Pada tes tekanan rendah, para mahasiswa diberitahukan untuk melakukan yang terbaik. Pada tes tekanan tinggi, yang dirancang untuk meningkatkan kecemasan tes, para relawan diberitahukan bahwa hasil tes mereka akan menentukan seberapa besar uang yang akan diberikan oleh yang melakukan eksperimen.

Para partisipan yang meluangkan 10 menit menulis pikiran mereka tentang tes tekanan tinggi sebelum melakukannya meningkatkan nilai mereka secara substansial lebih dari apa yang mereka peroleh pada tes tekanan rendah. Akan tetapi, dibandingkan dengan hasil tes tekanan rendah, nilai turun dengan jelas pada tes tekanan tinggi bagi para mahasiswa yang menulis tentang kejadian emosional lain dalam hidup mereka, atau yang tidak menulis apa-apa.

http://sainspop.blogspot.com/
Diana Sopacua

Jumat, 17 Januari 2014

Penemuan Cara Mengatasi Kegelisahan

Para ilmuwan dari the Agency of Science, Technology and Research/Duke-NUS Neuroscience Research Partnership, A*STAR's Institute of Molecular and Cell Biology, dan the National University of Singapore membuat sebuah terobosan mengenai bagaimana kegelisahan diatur dalam otak vertebrata.


Cara Mengatasi Kegelisahan

Karya mereka memberikan pencerahan tentang bagaimana otak secara normal menghentikan kegelisahan dan juga memastikan relevansi ikan zebra sebagai model bagi gangguan psikiatris manusia.

Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Suresh Jesuthasan menunjukkan bahwa mengganggu atau mengacaukan rangkaian neuron (sel saraf) tertentu dalam habenula, mencegah respon normal terhadap situasi stres. Dalam eksperimen-eksperimen mereka, tim ilmuwan tersebut melatih anakan ikan zebra untuk berenang menjauh dari sebuah cahaya untuk menghindar dari sengatan listrik ringan. Ikan-ikan normal dengan mudah mempelajari hal tersebut, akan tetapi ikan-ikan yang rangkaian tertentu di bagian habenulanya dirusak, menunjukkan tanda-tanda "ketidakberdayaan". Walaupun pada mulanya mereka mencoba menghindari sengatan tersebut, mereka cepat menyerah.

Lebih lagi, ikan-ikan ini menunjukkan indikasi bahwa mereka lebih gelisah daripada ikan-ikan normal, misalnya gampang ditakutkan dengan rangsangan yang tak berbahaya. Oleh karena kemiripan otak ikan zebra dengan otak mamalia, studi tersebut menunjukkan bahwa malfungsi habenula bisa merupakan penyebab gangguan kegelisahan tertentu pada manusia. Hal ini berarti bahwa stimulasi langsung habenula bisa saja digunakan sebagai cara untuk mengobati beberapa tipe gangguan kegelisahan pada manusia. Model ikan zebra yang dikembangkan oleh para ilmuwan tersebut dalam penelitian mereka bisa juga digunakan dalam usaha penemuan obat-obatan psikiatris di masa yang akan datang.

Seperti yang dikutip Eureka! Science News, Dr. Jesuthasan mengatakan, "Penelitian kami berhubungan dengan aspek-aspek dasar pengalaman manusia yaitu stres dan kegelisahan. Kami pikir bahwa habenula otak terasosiasi dengan penilaian apakah suatu stres telah diatasi. Studi kami menyediakan satu penjelasan mengenai mengapa kebutuhan untuk mengontrol lingkungan merupakan bagian yang sangat penting dalam tingkah laku manusia, karena perasaan kontrol memungkinkan organisme untuk mengatasi stres."

Dr. Jesuthasan dan timnya berencana untuk melanjutkan studi habenula pada manusia dan juga mengeksplor bagaimana mereka dapat menggunakan pengetahuan mereka tentang fungsi habenula untuk mengobati gangguan kegelisahan.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Current Biology.
http://sainspop.blogspot.com/

- Diana Sopacua -